Serving people isn’t always easy. Sometimes it drains you. Sometimes it even hurts a little. But when I’m able to genuinely help someone, there’s a kind of satisfaction. Although the result may not always match their expectations, I’ve accepted that I can’t make everyone happy. Still, I try my best to do what’s right and bring good to the majority.
Aku Merasa Seperti Dalam Misi Penyelamatan Dunia
Pemikiran random yang terlintas ketika menyadari apa yang telah kulalui beberapa waktu ini.
| *generated by ChatGPT |
Disclaimer: Tulisan ini semata-mata sebagai media untuk mengartikulasikan keresahan dan refleksi pribadi, tanpa bermaksud mendiskreditkan, menyudutkan, atau merugikan pihak manapun. Seluruh narasi adalah murni pemikiran pribadi dan tidak mewakili pihak lain yang terafiliasi. Apa yang tertulis di sini hanyalah potongan cerita, bukan gambaran menyeluruh dari keseluruhan yang sebenarnya terjadi.
April 2025
Hidupku berubah sejak menerbitkan tulisan tentang acceptance (penerimaan). Bagiku, itu adalah salah satu karya terbaikku. Dalam sekali duduk, sekitar 3 jam, di suatu sore setelah hujan, aku menumpahkan segala kegelisahan hati satu setengah tahun belakangan ke dalam tulisan itu.
Anehnya, setelah tulisan itu terbit, ada rasa lega sekaligus peningkatan dalam penerimaanku terhadap situasi yang kualami. Aku menjadi lebih fokus pada apa yang bisa kulakukan. Kegiatan sederhana, seperti lari, workout tipis-tipis, menjaga pola makan, dan hal lain yang membuatku merasa lebih termotivasi dan menikmati hidup.
—
Juli 2025
Siang itu aku sedang berdiri di bawah lampu merah, menunggu lampu tanda pejalan kaki menyala hijau untuk menyeberang di persimpangan jalan besar. Sambil menunggu, kubuka Instagram dan mendapati pesan baru yang belum terbaca (well, aku memang tidak menyalakan notifikasi media sosialku).
”kalau sudah dapat email peminatan, jangan lupa diisi, ya” begitu bunyi pesannya.
Aku pun langsung memeriksa kotak masuk di email kantor, dan benar saja ada pesan baru yang belum terbaca.
Lumayan kaget ketika membacanya, karena email peminatan ini ternyata sudah masuk sejak beberapa hari lalu, dan hari itu adalah batas konfirmasinya. Beberapa hari terakhir aku memang sedang melakukan perjalanan untuk liburan sehingga tidak begitu memerhatikan notifikasi yang masuk, termasuk email peminatan itu. Aku pun bergegas mengakses tautan formulir peminatan yang disematkan untuk melakukan konfirmasi. Di saat bersamaan, lampu tanda pejalan kaki menyala hijau. Sambil menyeberang, aku mengisi formulir dan mengkonfirmasi peminatanku untuk mengikuti Manajemen Talenta.
—
Manajemen Talenta merupakan salah satu proses, kalau tidak bisa dibilang kompetisi, untuk menapaki tangga karier. Sederhananya, untuk bisa dipromosikan, kita harus lulus manajemen talenta ini. Bagiku, saat itu, kesempatan ini merupakan ‘tiket’ menuju ‘kolam’ ("the pond") yang kupikir akan lebih sesuai untukku mengasah kemampuan.
Jika tugas belajar dianalogikan seperti diberi kail untuk memancing, aku merasa butuh latihan di ‘kolam’ terlebih dulu sebelum ikut melaut untuk menangkap ikan. Sayangnya, sepulang tugas belajar, aku langsung diajak melaut!
—
Sepulang dari liburan, hidupku berubah. Manajemen Talenta berproses dengan cepat. Belum sempat ‘recovery’, aku harus segera mempersiapkan dan memantaskan diri agar bisa lulus. Membangun gagasan inovasi dari nol agar relevan dengan jabatan target dan punya nilai tambah dibandingkan dengan kandidat lain. Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena keterbatasan pemahaman dan akses untuk mendalami jabatan target dalam relevansinya dengan perumusan gagasan inovasi yang dapat kutawarkan. Kondisi tersebut menuntutku untuk belajar lebih banyak dan mempersiapkan diri dengan lebih serius.
Terima kasih banyak kepada Mas, Mbak, rekan-rekan satu tim dan seluruh narasumber yang terlibat yang tidak dapat ku sebutkan satu per satu, yang sudah bersedia memberi waktu dan ruang untukku belajar dan mempersiapkan diri agar bisa melalui proses kompetisi dalam Manajemen Talenta ini dengan sebaik mungkin.
Dalam prosesnya, aku menyadari sesuatu. Kalau diingat-ingat, dulu awal bergabung di unit ini, aku cukup merasa minder karena isinya orang-orang yang pintar, cerdas, dan berprestasi. Sempat bertanya dalam hati, bisa tidak ya aku mengimbangi mereka? Ternyata justru itu berkahnya.
Berada di tengah orang-orang hebat membuatku belajar lebih cepat. Setiap kali bingung atau tidak paham, aku tinggal bertanya dan mereka selalu bersedia menjawab dan menjelaskan dengan sabar, tidak pernah pelit ilmu.
Ya Allah, orang-orang pada baik-baik banget!!!
Harusnya sejak awal aku tidak perlu merasa kecil, tapi bersyukur. Berada di antara orang-orang hebat adalah sebuah privilege.
Alhamdulillah…
—
Setelah menyelesaikan syarat administrasi dan menyiapkan gagasan inovasi, tibalah saatnya penulisan essay on the spot! Jadi, ini semacam seat-in exam dengan menulis 500–700 kata dalam bentuk esai terstruktur yang harus diselesaikan dalam waktu 60 menit. Penulisan esai ditujukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang secara tidak langsung menjadi kerangka untuk menggali gagasan inovasi kita dan kesesuaiannya dengan jabatan target.
Menariknya, tempat dudukku bersebelahan dengan salah satu travel buddies-ku sejak zaman kuliah! Didn’t see this coming. We’ve travelled to so many places together, and now, somehow, we’re crossing paths again in this phase of our career journey. Untungnya jabatan targetnya beda, wkwk
—
Singkat cerita, proses terus berjalan sampai tahap wawancara, yang rasanya dar-der-dor, dan akhirnya pengumuman kelulusan. Alhamdulillah, aku dinyatakan lulus. Tapi lagi-lagi belum sempat benar-benar bernapas, sudah langsung digas job shadowing. Mau tidak mau, untuk sementara waktu harus juggling antara tanggung jawab lama yang belum selesai dan peran baru yang sebentar lagi resmi diemban.
—
Oktober 2025
Kuartal terakhir 2025 benar-benar terasa seperti membuka bab baru dan lalu semuanya bergerak cepat, hampir tanpa jeda. Peran baru, ritme baru, cara pandang baru. Hari-hari diisi dengan proses familiarisasi dan penyesuaian diri yang intens. Challenging? Jelas. Tapi lebih banyak kagetnya, sih. Lingkungan baru, tanggung jawab baru, orang-orang baru, dan tentu saja pekerjaan yang cukup berbeda dari sebelumnya. Banyak hal yang harus dipahami dalam waktu singkat, sambil tetap menjaga agar semuanya berjalan dengan baik.
Kebetulan, sebagian besar layanan kepegawaian menjadi tugas dan fungsi yang kuampu. Cukup teknis dan langsung berhadapan dengan (+/-600) pegawai bersama segala dinamika, ritme dan ekspektasi yang tidak selalu sederhana. Posisiku dalam memberikan layanan kepada pegawai, mau tidak mau, menjadikan pola pikir dan perspektifku bergeser. Tidak lagi sepenuhnya melihat dari sudut pandang user, tetapi juga mulai memahami dan mempertimbangkan perspektif manajemen. Cukup complicated untuk bisa mengupayakan pelayanan terbaik sesuai ekspektasi pegawai sebagai user, dan di saat bersamaan juga harus menjaga pola administratif yang sesuai ketentuan.
—
Kalau sebelumnya posisiku sebagai anggota tim hanya berfokus pada tugas yang menjadi bagianku, sekarang aku yang harus mengoordinasikan rekan-rekan satu tim to get the (whole) work done! Luckily, rekan-rekan di tim pada keren-keren. They really know what they’re doing, hence everything can keep moving smoothly. Dan tentu saja, aku belajar banyak hal tentang pekerjaan ini dari mereka.
And yes, the generation gap is real. My team is a full spectrum: Gen X, Y, and Z all in one room. Different rhythms, different expectations, different ways of communicating. It’s another layer of challenge when it comes to leading and coordinating.
But (I believe) I’ll figure it out along the way. I don’t really have many choices; the operation has to keep going. So while I’m still learning about “the pond", I’m also trying to get to know them better, understand how they work, and build a real connection. Bear with me, guys! 🫶
—
My work life has shifted quite drastically with all the intense adjustments that come with stepping into this new role. Menjelang akhir tahun, tanda-tanda burnout mulai terasa. Lima bulan terakhir berjalan cukup intens, tanpa banyak jeda. I need a getawayyy ~
I used to be good at planning trips. I enjoy doing the research, building the itinerary, and hunting for the best spots. But with the pace of work lately, there’s barely any space to sit down and plan anything. When a long weekend comes around, or I get the chance to take leave, I realise I have nothing lined up.
So, I went home.
—
2026
Time does fly!
Tau-tau udah Maret, aja! Sudah lima bulan di posisi ini, dan ada saja hal-hal yang memaksaku terus belajar untuk bisa lebih familiar (dengan banyak hal dan berbagai case). Satu selesai, muncul lagi yang lain. Selalu ada saja. Benar-benar tidak pernah kehabisan stok, wkwkwk
Capek? Banget! But at the same time, I feel content. Fulfilled, even.
Learning how to manage and handle people in real work life is “the pond” I once said I wanted. So here I am. It is what it is. (rasain!)
Serving people isn’t always easy. Sometimes it drains you. Sometimes it even hurts a little. But when I’m able to genuinely help someone, there’s a kind of satisfaction. Although the result may not always match their expectations, I’ve accepted that I can’t make everyone happy. Still, I try my best to do what’s right and bring good to the majority.
Di titik ini aku mulai berpikir, mungkin inilah “misi penyelamatan dunia” versiku yang terasa paling nyata. Mungkin memang bukan adegan penyelamatan yang dramatis seperti Ultraman mengalahkan monster Kaiju yang menyerang warga kota. Hanya keputusan-keputusan kecil, tanggung jawab demi tanggung jawab yang kujalankan.
Aku pun masih harus terus belajar dan berusaha mengusahakan yang terbaik dengan apa yang kumiliki. Kalau belum bisa mengubah dunia, setidaknya untuk saat ini, akan kuupayakan untuk bisa membantu warga mengatasi masalah (kepegawaian)nya. Wish me luck!
Komentar
Posting Komentar