Labels

Friday, September 30, 2016

jalan jalan pertama



Nggak berasa, udah 7 bulan aja gue tinggal di Padang. Rasanya, udah kayak rumah sendiri, meskipun gue sadar –dan kadang masih suka mengeluh, atas keterbatasan yang ada di sini. Beberapa temen yang gue ceritain tentang kehidupan gue di Padang rata-rata ekspresinya sama,”Serius? Masa nggak ada? Kan padahal ibu kota provinsi ya?”.


Padang memang belum semaju Medan atau Palembang sebagai ibukota provinsi. Gue pribadi sih kadang kesusahan nyari item tertentu yang dulu sewaktu di Jakarta gue tinggal ke minimarket atau ke mal yang kayak-kayak semuanya ada. Kalau nggak gitu, buat ngedapetin barang A gue harus ke toko X, buat dapetin barang B gue harus ke toko Y, jadi kayak nyebar ke mana-mana gitu, belum nemu satu tempat yang bener-bener serba ada dengan ragam barangnya yang lengkap. Tapi ini bagus sih sebenernya, jadi kan guenya nggak main ke mal mulu hehe Malah bikin gue jadi banyak bersosialisasi karena harus nanya orang lokal dulu kalau mau ini itu. Secara minim info yang bisa kita dapet dari internet. Kalau udah gini, gue pasti langsung nyeletuk ’gue kangen Jakarta’.

Dan ketika akhir pekan lalu gue punya kesempatan buat berkunjung kembali ke Jakarta, I felt like: OMG... even on the way from the airport to the downtown i could feel the tense, the pressure for being in this capitol city! Siapa suruh datang Jakartaaaaa, mau pulang ke Padang lagi aja ~ hahaha Di Padang gue ngerasa hidup gue lebih selow, waktu bisa dimanfaatkan dengan baik –yang kalau di Jakarta sejam dua jam abis di jalan itu biasa, di sini banyak hal yang bisa gue lakukan dalam rentang waktu itu. Hamparan sawah, barisan pegunungan, langit biru awan berarak, dan ya pokoknya keindahan dalam kesederhanaanya Padang bikin hidup itu lebih... HIDUP.


Manusia mah emang gitu. Tapi pokoknya gue bersyukur banget sama Tuhan udah dikasih kesempatan  buat menjalani ini semua. Sebelum nanti kembali ke Jakarta untuk melanjutkan hidup, gue mau maksimalin apa yang bisa gue lakukan di Padang ini. Bagaimana kalau gue bagi cerita jalan-jalan gue selama di Padang ini?

Perjalanan pertama ini cukup impulsif. Kelar matrikulasi, temen temen kelas pada pulang kampung atau at least back to Jakarta. Haha maklum kan baru tiga minggu di sini, jadi masih agak susah move on gitu dari ibukota –sekarang pun :| dan ini menyisakan lima sekawan termasuk gue yang memilih stay di Padang –kalau gue sih karena nggak mampu beli tiket pesawat haha secara tekor banyak di awal gue memulai hidup baru di Padang ini #malahcurhat. Daripada nggak ngapa-ngapain kan, secara anak muda yang kepo dan butuh penyegaran setelah minggu minggu berkutat dengan perkuliahan, modal iklan di instagram langsung kontek om-om tukang tripnya dan voila! Suwarnadwipa we’re coming!!! –FYI waktu itu tiap buka instagram objek wisata Sumatera Barat, munculnya tempat ini mulu, a brand new beach resort sekitar Padang.



We had a good time in here. Bener-bener melepas penat. Guling-guling di pasir putih, teriak-teriak seru naik banana boat, snorkeling di lautnya yang biru, sampai tangan gue kram waktu main kartu malem-malem #memalukan haha

***

Menuju Suwarnadwipa dari kosan kami di kawasan Limau Manis bukan hal yang mudah. Secara belum ada yang punya motor jadi mobilitas terbatas. Dan cara gampang yang kami tahu sebagai anak baru Padang adalah... NAIK TAKSI wkwkwk beruntung driver taksinya bersedia mengangkut kami berlima sekaligus. Lumayan kan biaya taksi selama kurang lebih satu jam perjalanan menuju dermaga Bungus kalau dibagi lima.

Iya, jadi sama tukang tripnya kami disuruh ke Bungus buat nyeberang ke Suwarnadwipa. Bungus sendiri berada di... Teluk Bayur sonoan dikit haha, ya waktu itu kami mah belum paham banget sama geografis Padang dan sekitarnya. Jadi naik taksi merupakan pilihan tepat karena cepat dan anti nyasar dibanding ngeteng naik turun angkot.

Pagi itu kami sudah sampai di dermaga pemberangkatan seperti petunjuk tukang tripnya. Rada bingung awalnya karena ternyata kami tidak ketemu dengan tukang tripnya melainkan diarahkan untuk menemui si anu si itu via telepon saja. Hmpff!

Lebih nggak jelas lagi setelah menyelesaikan pembayaran di loket, kami cuma diberitahu kalau kapal akan diberangkatkan dari pantai di belakang bangunan pos ini, nggak ditunjukin lewatnya mana, kapal yang mana. Meskipun begitu kami tetap melangkah tanpa kepastian melipir ke pantai, menuju kerumunan orang di bawah pohon. Nyampe sana (lagi-lagi) nggak jelas keberadaan crew atau orang trip yang mengurusi kami. Yekan secara open trip gitu kan biasanya terorganisir gitu kan. Yang ada kami disuruh naik boat yang akan segera diberangkatkan dengan jumlah penumpang yang hampir penuh itu. Kami nurut aja. Pas udah di kapal, barulah menyadari, kalau rame-rame di bawah pohon ini tadi adalah penduduk sekitar yang hendak membantu 'mendorong' kapal ini yang rupanya kepentok karang karena air surut. Ada kali 15 menitan lebih akhirnya dengan gotong royong warga sekitar, boat berisi 20-an orang ini berhasil mengambang agak ke tengah perairan yang lebih dalam sehingga mesin kapal bisa dihidupkan dan melaju menuju Suwarnadwipa! Horeee...

Belakangan saat di perjalanan menuju pulau kami baru tahu bahwa penumpang yang mengisi boat ini adalah rombongan dari Pekanbaru, Riau. Gue berasa jadi intruder :(



Setelah menempuh 45-60 menit mengarungi lautan, sampailah kami di Suwarnadwipa. Pas kapal merapat, gue keingetan arahan dari si tukang trip kalau nanti sampai sini kita disuruh menemui Bang Hen. Ah, setidaknya petunjuk yang ini lebih jelas. Gue merasa lebih lega karena bakal ada yang 'mengurus' kami. Gue udah excited banget mau guling-guling di pasir putihnya.

Turun dari kapal gue mau ngabarin si tukang trip kalau kami sudah sampai sekalian mau nanyain ini gue nyari Bang Hen nya di sebelah mana, karena di dermaga nggak ada yang menyambut kami. Kami hilang arah dan ternyata hilang sinyal juga... huwaaaaa

Akhirnya nekad langsung masuk aja ke resort nya, niatan mau nanya ke resepsionis. Tapi kosong. Yaudah nanya aja ke abang-abang yang lalu lalang bawa-bawa sprei. Menjelaskan ini itu dan cek database (confirmed!) barulah kami dipersilahkanlah untuk memasuki kamar. LIBURAN siap DIMULAI!!! YEAY

***










Terlepas dari koordinasi yang buruk antara agen tukang trip dengan pihak pengelola Suwarnadwipa, liburan gue di sini seru dan menyenangkan. Meskipun tergolong objek wisata pendatang baru, pelayanan yang diberikan sudah cukup baik dengan fasilitas pendukung yang memadai. Saat itu bahkan beberapa sarana prasarana masih dalam tahap pembangunan. Mungkin kapan waktu boleh dicoba berkunjung ke sini ya... :)

PS: dua bulan kemudian gue berkesempatan mengunjungi Suwarnadwipa lagi dan sudah banyak perubahan. Sarana prasarana yang dulu masih dibangun sekarang sudah pada jadi dan bahkan pembangunan fasilitas pendukung lainnya masih terus berjalan. Yang bikin nggak asik adalah bagian melewati portal masuk ke pulau yang sebelumnya tidak ada. Jadi di ujung dermaga mau masuk kawasan resort/pulau ada portalnya gitu sekarang. Yang nggak berkepentingan (yang nggak bayar) dilarang masuk. Sebenarnya bagus sih sebagai kontrol wisatawan dan kebocoran 'retribusi'. Tapi kesannya jadi nggak asik aja, seolah membatasi akses. Mungkin penempatan portalnya yang kurang pas atau sebaiknya sistem akses masuk pulaunya lebih elegan dengan penyelenggaraan loket tiket masuk dilengkapi penjagaan yang baik tanpa perlu dipasang portal gitu :| #imo

BONUS:
Sore itu kami nimbrung rombongan dari Pekanbaru yang mengunjungi pulau Pagang, sepuluh menit naik boat dari Suwarnadwipa. Hanya saja kami harus membayar charge masuk pulau karena kunjungan ini di luar paket trip kami :( -kalau nggak salah ingat 25ribu/orang.

Meskipun memiliki cottage/penginapan yang tidak sebagus Suwarnadwipa, tetapi pasir putihnya lebih lebar dari bibir pantai dan lembut seperti bedak bayi. Banyak juga pengunjung yang snorkeling di sekitar pulau -kalau di Suwarnadwipa spot snorkeling di dermaga saja.



Tuesday, August 2, 2016

a whole new world - PADANG!



Hello! Kali ini gue mau share tentang bagaimana gue memulai hidup baru di Padang, Sumatera Barat, sebagai mahasiswa ala ala haha. Secara lagi musim penerimaan mahasiswa baru, yang pastinya bakal banyak putra putri daerah yang dateng ke kota Padang buat ngelanjutin kuliah. Ya gue juga pemain baru di sini, tapi setidaknya gue menang karena udah ngalamin lebih dulu hehe.

foto bersama di depan rektorat | dok. pribadi


Jadi, ceritanya kan gue awalnya domisili di Jakarta. Alhamdulillah dapat kesempatan buat lanjut studi di Universitas Andalas, salah satu perguruan tinggi negeri kenamaan di Bumi Minang ini. Seneng banget dong bakal punya rutinitas baru, tempat baru, dan pengalaman baru. It’s such a whole new world! Lebih-lebih kalo kita baru lulus SMA gitu kan yang apa-apa kita bisa asal ngikut temen, kalo udah kuliah gini kan kita harus bisa lebih mandiri, bertanggung jawab atas diri sendiri –ini catetan buat gue sendiri juga sih.

Okay, sebelumnya gue ikut ujian seleksi masuk langsung di Padang. It was my very first time to be here. Awalnya gue ragu, apa bisa gue bertahan hidup di sini? Nggak ada warteg, adanya warung padang which is masakan yang dijual ya makanan padang yang bersantan, pedas, dan minim sayuran. Actually i’m not so into Padang food :|

Tapi ada hal lain yang bikin gue jatuh cinta sama Padang. Keluar bandara via by pass ke arah kampus Unand Limau Manis bakal disuguhi pemandangan deretan pegunungan Bukit Barisan dengan gumpalan-gumpalan awan yang menutupi sebagian puncaknya. Kalau hari sedang cerah –seringnya cerah sih, langit Padang luar biasa indahnya. Kalau udah gitu, apa aja yang difoto dengan latar langit jadi instagram-able.

Jembatan Siti Nurbaya, Padang | dok. pribadi


Kalau kampusnya sendiri, luas banget oi! -gue suka jogging di lingkungan kampus. Di atas bukit, jalanan nanjak, tapi hijau dan sejuk. Malah kita bisa lihat pemandangan kota Padang dari atas. Best view ada di helipad depan Rektorat tapi dari jendela depan kelas gue aja udah bagus menurut gue. Gedung-gedungnya didesain minimalis tanpa mengurangi ciri khas arsitektur Minang –but somehow karena kenampakan dan lokasinya di atas bukit, orang menyebutnya ‘markas power rangers’. Makanya, mahasiswanya dijuluki Unand rangers. Gitu.

Nah begitu ada pengumuman gue keterima di Unand, pasti yang pertama terlintas, ntar gue tinggal di mana? Jadilah nyari-nyari kosan dekat kampus –susah kalo nyari online, kudu langsung terjun ke lapangan door to door. Karakteristik kosan di sini itu, kosongan. Iya, literally kamar doang. Udah gitu, dari segi jumlah, kosan pria lebih sedikit dibanding kos wanita. Jadi, ya ada effort lebih gitu buat nyarinya. Apalagi kalo udah ke sana kemari tapi penuh melulu. Harga sewa rata-rata di rentang 600.000 – 1.000.000 rupiah per kamar per bulan. Masalahnya, sebagian besar sistem pembayaran sewanya enam bulanan atau tahunan. Nah lho, harus bayar kosan langsung sekian bulan masih ditambah harus mikir belanja furniture kamar yang masih kosongan. Ini yang harus diantisipasi.

Secara umum memilih kosan itu susah-susah gampang. Kenapa susahnya ditulis dua kali? Haha

Pertama, penampakan kosannya. Pilih yang senyaman mungkin. Nyaman nggak harus mahal ya.. Yang sederhana tapi mendukung kita buat belajar. Minimal tempatnya bersih dan lingkungan sekitar yang kondusif.

Kedua, lokasi. Lumrahnya makin dekat kampus makin mahal harga sewanya. Nah, karena letak geografis kampus yang di atas bukit, makin ke atas dekat kampus makin sepi. Jadi, mending agak ke bawah dikit, di mana masih ada warung makan, tukang laundry sama tukang fotocopy untuk memenuhi kebutuhan pokok kita.

siluet senja kosan gue | dok. pribadi

Ketiga, pilihan kamar. Inilah kenapa kita harus cek langsung ke lokasi. Biar kita bisa memilih kamar mana yang benar-benar cocok sama kita. Minimal jangan sampai dapat kamar yang susah sinyal. Sinyal adalah salah satu kebutuhan pokok di zaman internet sekarang ini. Syukur-syukur kosannya ada fasilitas wifi (jaringan fiber optic baru mau dipasang cuy), include listrik bulanan, kan enak nggak nambahin pikiran. Intinya pastikan dulu fasilitas apa aja yang bakal kita dapat. Harga sewa kamar di lantai atas kadang lebih murah dibanding harga sewa kamar di lantai bawah. Karena apa? Karena naik turun tangga bisa jadi merepotkan kita saat ada gempa –gempa masih sering terjadi di sini, tapi insyaAllah Tuhan selalu melindungi, aamiin. Oiya, cek airnya juga. Coba perhatikan bak mandinya. Mungkin kalau buka kran airnya terlihat jernih, tapi kalau bagian dalam bak mandinya menghitam bisa jadi airnya mengandung endapan.

ALERT: Pastikan kita mempunyai persepsi yang sama dengan pemilik kosan. Kalau menanyakan kamar kosong, bilangnya “ada satu kamar kosong?”. Karena kalau kita bilang “ada kamar untuk satu orang?”, bisa jadi kita digabung sama orang lain dalam satu kamar. Penekanannya di ‘satu kamar’ bukan ‘satu orang’. Atau biar gampang langsung bilang aja “saya maunya kamar sendiri” –kalau memang rencananya mau kos sendiri.

Keempat, coba nego pembayaran sewa. Kalau udah ngerasa cocok sama satu kamar, coba persuasi kepada pemilik kos mana tahu boleh dibayar tiga bulan dulu –syukur Alhamdulillah kalau bisa dibayar bulanan. Yekan selain bayar kosan kita masih harus mikir beli kasur sama lemari.
Kalau udah, sekarang mikir isi kamar. Beli perabot yang paling utama dan terpampang nyata mahalnya adalah kasur dan lemari. Salah satu toko perabot rumah tangga yang bisa gue rekomendasikan adalah Toko Anugerah Karpet, ‘belakang pasar’ Siteba – Padang. Harga bisa ditawar dan tentu jauh lebih murah dibanding beli di pusat perbelanjaan rumah tangga modern yang terkenal di Padang. Bisa delivery lagi. Asik kan?
(Disclaimer: ini bukan iklan, murni dari pengalaman tanpa maksud mendiskreditkan)

Tempat tinggal dan perabotannya udah lengkap, sekarang masalah mobilitas dan transportasi. Pergerakan akan menjadi lebih mudah bila kita punya sepeda motor (atau mobil kalau lo tajir) -kalo gue mah nebeng :( Karena dari gerbang kampus ke gedung perkuliahan jalanannya nanjak dan cukup jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi tenang, ini masih bisa disiasati dengan fasilitas bus kampus yang bisa kita manfaatkan untuk pergi pulang kuliah. Kita bisa naik turun di titik titik pemberhentian dari mulai daerah Pasar Baru sampai seluruh lingkungan kampus. GRATIS! Tinggal tepok tangan kalau mau turun, nanti driver-nya bakal berhenti di halte terdekat. Tapi busnya syariah ya... Separo bangku depan khusus untuk yang perempuan, separo bangku belakangnya baru untuk laki-laki. Kalau lagi penuh yang laki-laki harus berdiri, mengalah.

angkot ijo (di belakang) | dok. pribadi

Kalau nggak telaten naik bus kampus, bisa naik angkot. Iya angkotnya masuk kampus. Biaya 2.000-3.000 rupiah per orang sekali jalan. Kita juga bisa naik angkot untuk pergi ke kota (warna hijau atau biru muda). Tarifnya jelas beda, 4.000-5.000 rupiah per orang sekali jalan. Yang perlu diingat, jam operasional angkot pada umumnya adalah dari pukul 05.30 – 18.00. Jadi, kalau bepergian naik angkot jangan sampai lewat maghrib ya. Nanti susah pulangnya. Hehe Tapi ada grab taxi kok, kalau mau praktis. Tapi sih biasanya ntar driver taxi nya bakal ngasih kartu nama berisi nomor ponselnya yang kalau sewaktu-waktu kita butuh taksi, tinggal telpon langsung aja. Pasti.

Perkara makan dan belanja bulanan. Bahas soal makanan dulu deh. Tadi kan udah nyari kosan yang deket warung makan ya? Nah, mungkin kalau kita sebagai pendatang dari luar Sumatera Barat perlu menyesuaikan perut kita. Apalagi yang nggak suka pedas. Makanan di warung-warung sekitar, default-nya itu pedas. Jadi apapun yang mau kita makan, kalau nggak suka pedas, bilang ‘nggak pedes’ ke uni atau udanya. Mending sih kita yang membiasakan. Awalnya gue nggak gitu suka makan pedas. Sempet kaget perut juga pas awal-awal tinggal di sini. Mules tiap hari. Nggak gue doang sih, temen-temen lain juga kok. Hehe Tapi toh akhirnya kan jadi biasa dan baik-baik saja.

Memang mungkin terbatas di pilihan menunya. Kalau pagi bisalah nyari makan di range harga 5.000-12.000 rupiah, yang umumnya menu sarapannya itu lontong sayur atau lontong pical tapi ada nasi uduk juga.

Makan siang di warung makan Ampera –wartegnya orang Minang, ini dewa penyelamat kita. Biasanya warung ampera itu mematok satu harga (misal 8.000 rupiah) untuk sekali makan dengan pilihan lauk bermacam. Misal:
Uni, makan sini satu”.
Apa samba nya?” (samba = bahasa minang lauk)
Ayam Kecap”. –lauknya macam-macam, dari telor dadar sampai ikan bakar.
Nanti akan datang di meja kita sebuah piring berisi setangkup nasi disiram kuah sambal merah-ijo, sesendok sambal goreng, dan beberapa helai sayur (ini default nya) ditambah lauk yang kita pesan tadi. Kalau nambah nasi atau lauk, tentulah ada charge tambahan.
Uni, tambuah ciek” –mbak, (nasinya) nambah satu.

RM Lamun Ombak Jl. Khatib Sulaiman | dok. pribadi
 
Makan malam bebas deh mau apa. Ayam Penyet, Pecel Lele, Nasi Goreng, Minas –singkatan Mie Nasi (nasi mawut kalau di Jawa), Cap Jay, Fuyunghai, sampai chicken katsu ala-ala juga ada. See, sedikit sekali ada menu bersayur kan? :( Makanya untuk memenuhi kebutuhan serat biasanya gue minumnya jus buah apa gitu. Rata-rata sekali makan-minum sih range-nya 15.000-20.000 rupiah. Gue kaget juga awalnya, harga-harga di mari ngalah-ngalahin Jakarta haha

Nah, belanja bulanan sekarang. Pertama, jangan cari Indomaret atau Alfamart apalagi Seven Eleven ya di Padang. Karena kebijakan pemerintah daerahnya yang ingin melindungi usaha perekonomian lokal, jadi di sini minimarketnya ya merek lokal. Tapi sih kalau gue pribadi belanja bulanannya di Supermarket sih #azek haha namanya Budiman. Jaringan supermarket lokal Sumatera Barat. Meskipun harus ke kota sih, tapi menurut gue lebih lengkap dan sedikit lebih murah dibanding supermarket lain.

warung jajan Panorama Danau Kembar, Alahan Panjang - Solok | dok. pribadi

Kalau yang hobinya nge-mal, di Padang ini ada 2 mal utama, Basko Grand Mal dan Plaza Andalas/Ramayana. Eh ada SPR Plaza juga sih. Tapi yang menurut gue cukup representatif dan nggak pernah sepi itu, Plaza Andalas. Basko lebih berkelas sebenarnya, tapi mungkin lokasinya yang agak jauh jadi malah lebih sepi, padahal ada Sport Station sama Food Mart. Kalau SPR Plaza karena tempatnya di tengah Pasar jadi ya gitu, kurang tenar :|

Kalau kamu hobi film, hm... adanya bioskop lokal yang klasik dan apa adanya. Raya Theater dan bioskop Karya. Lumayan lebih update film-film yang tayang di Raya, paling cepat terlambat seminggu dari jadwal premier-nya untuk film Indonesia dan terlambat dua minggu (dari Jakarta) untuk film Holywood-nya. Kalau acara komunitas atau film-film festival setau gue seringnya diputar di Karya. Denger-denger sih jaringan 21 mau buka layar di Plaza Andalas, tapi ya masih terdengar doang :( Jadilah anak gaul Padang kalau mau nonton perginya ke Pekanbaru which is 8 jam perjalanan darat dari Padang. Di sana ada jaringan 21, jadi sekalian berakhir pekan di sana buat maraton film –OMG

Kalau suka nongkrong, gaada habisnya dijabanin satu-satu. Wisata kuliner banyakan sih di daerah Pondok (chinatown-nya Padang), tapi seantero kota Padang juga banyak tempat nongkrong asik yang patut dicoba.

JOOKS juice bar | dok. pribadi

Kalau butuh refreshing, keindahan alam Sumatera Barat siap dijelajahi dari gunung, laut, danau, bahkan kepulauannya. Kalau kepo boleh kok mampir IG gue di @wijayarga nanti tinggal tap dua kali di foto-fotonya atau Alhamdulillah terima kasih banyak kalau bersedia follow, ntar gue update tiap gue jalan-jalan keliling Sumbar hehe (nah, yang ini baru iklan haha)

Pulau Pasumpahan | dok. pribadi
 
Segitu dulu ya sharing gue buat para mahasiswa baru kota Padang umumnya, Unand Rangers khususnya. Mohon maaf kalau ada hal yang kurang berkenan. Ini murni pengalaman gue loh ya. Semoga tetap bermanfaat dan kalau ada yang ingin ditanyakan boleh kontak gue lewat kolom komentar, email atau DM IG gue hehe, gue jawab sebisanya.


Salam,

(tambahan)
pas udah dipos, baru keinget ada salah satu hal mendasar yang belum dibahas: BUKU. Soal buku referensi kuliah, kita bisa cari cari di Perpustakaan kampus yang super gede, lima lantai, cuy! Cukup lengkap koleksinya (katanya sih, karena gue pribadi belum pernah ke sana haha yampun). Kalau mau beli buku, ada Gramedia -satu-satunya di Sumatera Barat. Pernah satu waktu ke Gramedia penuh sesak karena ada tur dari rombongan wisata sekolah-sekolah di daerah :| Untuk stok bukunya banyak, tapi terbatas. Gimana tuh? Iya, gue pernah kan cari buku-buku yang direferensiin dosen di kelas, yaudah gue ketik lah di mesin pencari di Gramedia dan... daftar buku-buku yang gue cari stoknya NOL semua huhu... Tapi kata mbaknya sih kita bisa request buat inden/order buku -nanti dikirim dari pusat, tapi cukup memakan waktu, setidaknya satu minggu. Alternatifnya ada Sari Anggrek. Nggak kalah lengkap hanya bukunya kebanyakan edisi lama -atau mungkin yang edisi barunya gampang out of stock saking larisnya. Kalo di Jakarta ada Kwitang, di sini juga ada bursa buku serupa. Namanya Pasar Burung. Salah satu bangunan di komplek perbelanjaan Pasar Raya Padang yang ditinggalkan, karena pedagangnya eksodus jualan di pinggir jalan. Kalo nggak salah sih karena mau dibangun gedung baru tapi terus proyek mandeg atau kesalahan konstruksi gitu. Hati-hati ya, agak serem... hehe just find out yourself later ;)