Sunday, November 20, 2016

Melipir ke Pesisir Selatan: Painan - (Onde) Mandeh



Painan - Pesisir Selatan, Sumbar | foto: dok. pribadi

 
“Besok ke Painan, mau join?”

Gue yang mulai kepo sama Sumatera Barat pasti nggak bisa menolak ajakan seperti ini. Kapan lagi?
Ternyata temen di kos sebelah mau jalan nemenin temennya yang kebetulan lagi dinas di Padang. Lumayan nih, nambah perbendaharaan tempat menarik di Sumatera Barat bonus dapat teman baru.

Pagi banget kita udah meluncur. Maklum, jarak tempuh Padang-Painan bisa sampai 3 jam-an. Setelah cari sarapan di pasar, melipirlah ke pantai Carocok Painan. Sebenarnya yang menarik di sini adalah dermaganya dan Pulau Cingkuak yang terletak di seberangnya. Tapi mumpung

Thursday, November 17, 2016

Why do I travel?


Oro-oro Ombo Pendakian Gunung Semeru | foto: dok. pribadi

Belakangan gue sering kepikiran soal perjalanan dan kepenulisan. Dua hal yang udah jadi passion gue sampai sekarang. Entah mungkin gue lagi kangen jalan-jalan atau ini efek kebanyakan tidur selama libur semesteran kemarin.

Jadi gue kepikiran, sebenarnya apa yang gue cari dari perjalanan-perjalanan yang gue lakukan selama ini?

pada perjalanan...

aku menemukan diriku
aku mengenali diriku
aku menjadi diriku



Tahun 2011 gue mulai aktif nge-blog. Hal yang waktu itu bikin semangat nulis adalah status gue sebagai mahasiswa semester akhir pada program diploma yang gue ambil. Waktu itu gue

Monday, November 14, 2016

Sebuah Catatan Perjalanan Random: sekitar Bukittinggi



di manakah Jam Gadang berada? | foto: dokumen pribadi


Memasuki minggu keempat gue tinggal di Padang, salah seorang kawan datang berkunjung ke Padang. Sebenarnya gue bingung. Baru juga tiga minggu di Padang, apa yang bisa gue kasih lihat ke dia yang sudah jauh-jauh datang? Referensi gue baru Suwarnadwipa Haha

Pas ngobrol ngerencanain kunjungannya itu, barulah dia bilang kalau pengen mengunjungi Bukittinggi. Itung-itung survei lokasi katanya. Minggu depan mau menemani atasan keliling Riau-Sumbar. Pas banget, gue belum pernah ke Bukittinggi.

Gue pun langsung heboh nyari rental mobil dan reservasi penginapan. Karena cukup dadakan, nyari penginapan susahnya minta ampun cuy! Gue sampai bikin daftar nama dan kontak penginapan sekitar Bukittinggi. Gue telponin lah satu-satu dan setelah seharian gue ditolakin pihak penginapan karena sudah fully booked, akhirnya gue

Friday, September 30, 2016

jalan jalan pertama: Suwarnadwipa



Nggak berasa, udah 7 bulan aja gue tinggal di Padang. Rasanya, udah kayak rumah sendiri, meskipun gue sadar –dan kadang masih suka mengeluh, atas keterbatasan yang ada di sini. Beberapa temen yang gue ceritain tentang kehidupan gue di Padang rata-rata ekspresinya sama,”Serius? Masa nggak ada? Kan padahal ibu kota provinsi ya?”.


Padang memang belum semaju Medan atau Palembang sebagai ibukota provinsi. Gue pribadi sih kadang kesusahan nyari item tertentu yang dulu sewaktu di Jakarta gue tinggal ke minimarket atau ke mal yang kayak-kayak semuanya ada. Kalau nggak gitu, buat ngedapetin barang A gue harus ke toko X, buat dapetin barang B gue harus ke toko Y, jadi kayak nyebar ke mana-mana gitu, belum nemu satu tempat yang bener-bener serba ada dengan ragam barangnya yang lengkap. Tapi ini bagus sih sebenernya, jadi kan guenya nggak main ke mal mulu hehe Malah bikin gue jadi banyak bersosialisasi karena harus nanya orang lokal dulu kalau mau ini itu. Secara minim info yang bisa kita dapet dari internet. Kalau udah gini, gue pasti langsung nyeletuk ’gue kangen Jakarta’.

Dan ketika akhir pekan lalu gue punya kesempatan buat berkunjung kembali ke Jakarta, I felt like: OMG... even on the way from the airport to the downtown i could feel the tense, the pressure for being in this capitol city! Siapa suruh datang Jakartaaaaa, mau pulang ke Padang lagi aja ~ hahaha Di Padang gue ngerasa hidup gue lebih selow, waktu bisa dimanfaatkan dengan baik –yang kalau di Jakarta sejam dua jam abis di jalan itu biasa, di sini banyak hal yang bisa gue lakukan dalam rentang waktu itu. Hamparan sawah, barisan pegunungan, langit biru awan berarak, dan ya pokoknya keindahan dalam kesederhanaanya Padang bikin hidup itu lebih... HIDUP.


Manusia mah emang gitu. Tapi pokoknya gue bersyukur banget sama Tuhan udah dikasih kesempatan  buat menjalani ini semua. Sebelum nanti kembali ke Jakarta untuk melanjutkan hidup, gue mau maksimalin apa yang bisa gue lakukan di Padang ini. Bagaimana kalau gue bagi cerita jalan-jalan gue selama di Padang ini?

Perjalanan pertama ini cukup impulsif.

Tuesday, August 2, 2016

a whole new world - PADANG!



Hello! Kali ini gue mau share tentang bagaimana gue memulai hidup baru di Padang, Sumatera Barat, sebagai mahasiswa ala ala haha. Secara lagi musim penerimaan mahasiswa baru, yang pastinya bakal banyak putra putri daerah yang dateng ke kota Padang buat ngelanjutin kuliah. Ya gue juga pemain baru di sini, tapi setidaknya gue menang karena udah ngalamin lebih dulu hehe.

foto bersama di depan rektorat | dok. pribadi


Jadi, ceritanya kan gue awalnya domisili di Jakarta. Alhamdulillah dapat kesempatan buat lanjut studi di Universitas Andalas, salah satu perguruan tinggi negeri kenamaan di Bumi Minang ini. Seneng banget dong bakal punya rutinitas baru, tempat baru, dan pengalaman baru. It’s such a whole new world! Lebih-lebih kalo kita baru lulus SMA gitu kan yang apa-apa kita bisa asal ngikut temen, kalo udah kuliah gini kan kita harus bisa lebih mandiri, bertanggung jawab atas diri sendiri –ini catetan buat gue sendiri juga sih.

Okay, sebelumnya gue ikut ujian seleksi masuk langsung di Padang. It was my very first time to be here. Awalnya gue ragu, apa bisa gue bertahan hidup di sini? Nggak ada warteg, adanya warung padang which is masakan yang dijual ya makanan padang yang bersantan, pedas, dan minim sayuran. Actually i’m not so into Padang food :|

Tapi ada hal lain yang bikin gue jatuh cinta sama Padang.

Monday, June 27, 2016

Danau Bersejarah di Puncak Parapat


HORAS! Pekik semangat orang Sumatera Utara. Nah, kalau jalan-jalan ke Sumatera Utara wajib banget berkunjung ke Parapat. Ada apa di Parapat? Parapat merupakan nama sebuah kelurahan berada di tepian danau bersejarah yang melegenda dan dikenal dengan nama Danau Toba. Parapat menjadi salah satu akses utama menuju Danau Toba. Nah, kalau udah sebut Danau Toba kebayang dong bagaimana keindahan alam yang ditawarkan?

Terdapat banyak media yang menyediakan informasi mengenai Wisata Danau Toba, salah satunya kita bisa memperolah informasi yang ringkas, jelas, dan lengkap dengan satu langkah mudah, tinggal klik website Traveloka, lalu masukkan kata kuncinya: ‘Danau Toba’.

Danau Toba terbentuk akibat letusan dari Gunung Toba dan merupakan letusan vulkanik terbesar yang pernah ada. Atau sering kita dengar tentang cerita rakyat tentang sebuah keluarga siluman ikan hingga terbentuklah Danau Toba.

Sumber: http://www.linkedin.com


Ada beberapa spot menarik di sekitar danau ini, salah satunya Pulau Samosir – nyeberang dikit naik kapal penumpang sekira 30 menit dari Parapat. Dari Parapat, ada dua pelabuhan tempat bersandar kapal-kapal yang akan membawa warga dan wisatawan yang ingin berkeliling Danau Toba, Ajibata dan Tigaraja.

Jika berkunjung ke Pulau Samosir, kita akan menemukan kebudayaan masyarakat Batak yang masih sangat terasa di sana. Kita juga bisa melihat banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang tersisa.

Di Pulau Samosir terdapat salah satu Kampung yang bernama Kampung Tua Huta Bolon yang masih melestarikan tarian daerah, yaitu Tari Sigale-gale khas Batak. Tarian ini menggunakan patung/boneka Sigale-gale yang menari dengan unik. Unik karena konon Sigale-gale ini bisa bergerak sendiri. Wuih, keren kan? –Serem kali. Haha nggak sih, kalau zaman sekarang mah Sigale-gale nya bisa gerak karena digerakin ‘dalang’-nya kok, tenang aja. Di Kampung Tua Huta Bolon ini pun terdapat sebuah makam seorang Raja penguasa Samosir, yaitu Raja Sidabutar yang diperkirakan usia makamnya mencapai 500 tahun. Tidak perlu takut berkunjung ke pemakaman, ini makamnya berada di tengah-tengah pasar. Di sepanjang jalan menuju makam, banyak kios-kios yang menjajakan suvenir khas Sumatera Utara. Sambil belanja sambil ziarah gitu ceritanya, hehe

Setelah mengunjungi Kampung Tua Huta Bolon, kita bisa pergi ke Ambarita. Di sana, kita bisa melihat peninggalan sejarah berupa pengadilan tradisional ala Suku Batak. Tempat tersebut berbentuk Batu Persidangan yang usianya pun sudah beratus tahun sebagai tempat mengeksekusi mati tahanan Suku Batak. *jangan dibayangin –next!

Di pulau Samosir juga terdapat beberapa danau yang tak kalah indahnya. Danau tersebut yaitu Danau Aek Natonang dan Danau Sidihoni yang ada di Desa Tanjungan. Mata kita akan menyaksikan keindahan danau dengan airnya yang jernih di tengah hijaunya perbukitan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon pinus yang menambah keindahannya. 

Di sana juga tersedia fasilitas sewa sepeda motor kalau kita ingin berkeliling sekitar Danau Toba. Satu lagi yang tidak boleh ketinggalan, pergilah ke Desa Jangga untuk melihat-lihat kain tenun khas Suku Batak yaitu Kain Ulos dengan motifnya yang sangat cantik karena ditenun secara tradisional oleh penduduk wanita setempat yang cantik juga –halah!

Udah bahas objek wisatanya, kita yang berasal dari luar kota tak perlu khawatir perkara tidur di mana dengan siapa, karena di sekitar Danau Toba banyak tempat penginapan dari kelas melati sampai hotel berbintang dengan berbagai fasilitas yang memadai dan harga yang bervariasi. Andalan buat nyari penginapan, lagi–lagi tinggal klik  website Traveloka yang menyediakan informasi tentang hotel apa saja yang ada di Parapat ini. Salah satunya, kita akan menemukan hotel bintang tiga di Parapat, tepatnya di jalan Nelson nomor 4 yang dikenal dengan nama Danau Toba International Cottage Parapat.

Sumber: http://www.medanguide.com


Jika ingin menikmati waktu libur dengan mencoba seluruh tempat wisata yang ada di Parapat dan sekitarnya, Danau Toba International Cottage ini sangat cocok untuk menjadi pilihan tempat menginap. Karena, dari sini kita dapat dengan mudah untuk akses pergi ke spot-spot wisata menarik di sekitar karena keberadaannya di jantung Parapat. Mau nyeberang ke pulau Samosir pun dekat dengan Pelabuhan Parapat yang jaraknya 0,89 km –kalau aku sih bisa ini ditempuh dengan jalan kaki sambil menikmati keseharian di sekitar.

Danau Toba International Cottage memiliki 108 kamar dengan tipe dan fasilitas yang beragam. Terdapat tipe Standard Room, Superior Room, Cottage Room, Family Room, dan President Suite. Masalah harga dijamin bersahabat disesuaikan dengan fasilitas dan pelayanan yang diberikan untuk kenyamanan kita. Seperti fasilitas wifi, AC, TV kabel, shower dengan air dingin dan panas, laundry, ruang keluarga, kolam renang, ruang sauna, taman, area merokok, fasilitas ruang rapat, dan keamanan 24 jam.

Nah, kebayang dong pas buka jendela pagi-pagi abis bangun tidur disambut pemandangan Danau Toba yang eksotis?