Skip to main content

Gara-Gara (Larangan) Tripod (Masuk Kabin Pesawat)


Namanya juga impulsif dan spontan, pasti ada aja ‘kejutan-kejutan’ sepanjang perjalanan.

Anggaplah ini sebagai side stories atau cerita di balik layar #mendadakrinjani di postingan sebelumnya. Jadi, gue bakal ngulik hal-hal yang nggak seindah yang terlihat dalam pendakian Gunung Rinjani.

Razia di bandara | dok. pribadi

Perasaan gue campur aduk, excited tapi sekaligus juga deg-degan. Padahal gue udah duduk di ruang tunggu Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang, menantikan penerbangan menuju Lombok bersama kawan-kawan. Kami bermaksud untuk mendaki Gunung Rinjani, dalam kesepakatan dan berkeputusan yang serba dadakan. Banyak yang bilang kalau bikin acara dadakan kemungkinan realisasinya lebih besar dibandingkan acara yang direncanakan jauh-jauh hari. Gue pun lebih sering melakukan perjalanan yang nggak terlalu terikat perencanaan atau persiapan matang. Tapi kan ini naik gunung. Butuh persiapan lebih –setidaknya bagi gue pribadi. Mulai dari nyiapin peralatan, logistik, sampai nyiapin badan. Di jalur pendakian nggak bakal nemu Ind*maret yang kalau kita lupa bawa barang apa bisa tinggal mampir beli.

check in bagasi di bandara Padang | dok. pribadi

Beberapa kali diajak naik gunung, gue selalu menyempatkan diri untuk berolahraga dulu beberapa waktu sebelum hari keberangkatan. Karena satu-satunya olahraga yang gue suka cuma lari, jadi ya gue usahain buat jogging sore atau pagi hari. Tapi jadi ketebak gitu. Kalau ketahuan sama ibu kos pasti langsung ditegor,”eh, tumben lari. mau naik gunung mana lagi?”.
Gue cuma bisa nyengir dan harus siap diinterogasi.

Nah, kali ini gue nggak sempet lari. Ya kapan mau lari? Senin siang bikin kesepakatan, Rabu siang udah harus terbang.

Nanti kita jalan santai aja ya…

Iya, nggak usah terlalu memaksakan diri

Dalam hati, doa aja deh gue banyakin. Pasrah, kalau ini jalan Tuhan kan pasti semua baik-baik saja. Aamiin…

at BIM before take off. Lombok, i'm coming! | dok. pribadi

Bandara Soekarno Hatta – transit

Karena waktu transitnya cukup lama, sekitar tiga jam, jadi kami melipir dulu ke toko kaset yang jualan ayam. Makan nasi pake ayam selagi bisa. Besok-besok di gunung bakal makan seadanya. Sekitar satu jam sebelum jadwal masuk pesawat kami pun berjalan menuju ruang tunggu. Ngantri screening.

“TEEET!”

Sekalipun gue nggak ngantongin barang logam, tapi mesin pendeteksinya pasti bunyi. Ya, gue nyantai aja diperiksa ulang, karena maklum, masih tertanam platina di lengan kanan gue karena patah tulang beberapa tahun silam. Aman.

Gue kembali merapat ke barisan untuk mengambil barang yang keluar dari alat pemindai.

ini tas masnya? bawa tripod ya?”, salah seorang petugas mendekat dan menanyai saya.

iya, mas”.

boleh tolong dibuka, saya lihat?

baik. sebentar”, gue menepi. Gue buka daypack kecil gue dan menarik kantong tripod pendek yang dimaksud lalu menyerahkannya kepada petugas muda itu. Kain pembungkusnya dibuka, tripod dikeluarkan, dilihat sekilas lalu sedikit ragu dia pun menghampiri petugas lain di belakang alat pemindai.

masnya cek tripod kecil gue, itu daypack gue yang warna oranye | dok. pribadi

maaf, mas. barangnya harus masuk bagasi, tidak bisa dibawa ke kabin”, petugas itu kembali mendatangi saya.

caranya?

silakan kembali ke counter check-in untuk drop bagasi

maksud saya, saya penerbangan transit. bagaimana caranya menyusulkan barang ke bagasi?

sebelumnya penerbangan dari mana?

Padang

penerbangan berikutnya jam berapa?

jam 8 ke Lombok”, which is +/- 30 menit lagi jadwal pesawatnya boarding. Mulai kepikiran bakal ketinggalan pesawat. Duh

boleh pinjam KTP-nya? sebentar ya mas”, dia kembali pergi berdiskusi dengan petugas lain sesaat setelah gue menyerahkan kartu identitas.

“guys, kalian duluan nggak pa-pa deh. daripada ketinggalan pesawat”, gue mulai nggak enak sama kawan-kawan yang lain secara mereka jadi tertahan karena nungguin gue.

enggaklah, kita tungguin. tenang aja”, terima kasih, geng!
 
mas, ini silakan diisi dulu. intinya buat pernyataan bahwa membawa tripod ke kabin tidak dipermasalahkan sewaktu di bandara Padang”, gue disodorin formulir pernyataan kosongan. Selain mengisikan data diri, disuruh bikin pernyataan sendiri, pakai kata-kata sendiri, sesuai arahan dari masnya. Gue rada bete tapi coba gue ikuti dulu ‘permainan’ ini.

nyusun kata-kata pernyataan yang ribet | dok. pribadi

 “maaf, mas. boleh dipegang sebentar tripodnya? sambil saya foto”, wait, WHAT??? Harus banget nih? Di sini? Depan orang-orang? Gue dongkol. Tapi mencoba tegar dan sabar. Gue jabanin deh! Meskipun sambil males-malesan. Masnya sepertinya tahu ketidaknyamanan gue.

udah berasa tersangka pidana :( | dok. pribadi
 
kemarin juga ada kejadian serupa, mas. gara-gara tripod juga. ya begini”, dia coba ‘menghibur’ gue.

padahal biasanya saya bolak-balik Padang – Surabaya nggak dipermasalahkan lho tripod kecil saya masuk kabin”, protes gue halus. Padahal tiga minggu lalu ambil rute Banjarmasin – Padang transit Jakarta juga aman-aman aja itu tripod masuk daypack gue. Secara kecil dan ringkas nggak makan banyak tempat.

ya beginilah mas, saya cuma mengikuti arahan. saya juga baru di sini”, deg! Apa iya ini masnya lagi diospek ya?

Rupanya belum kelar sampai di situ. Si masnya megang tripod gue dan ‘maksa’ nganterin gue ke gate keberangkatan. Yang ternyata gate-nya pindah, nggak sesuai sama yang tercantum di boarding pass. Jadilah berlima sama masnya jalan kaki antar-gate. Terus pas udah sampe gate yang bener dibawa ke meja resepsionis. Masnya nanya-nanya lagi sama petugas di sana. Terus nggak jelas, gue sama temen-temen berdiri menunggu tanpa kepastian padahal orang-orang udah lari-lari naik pesawat. Final call? OMG…

Jadi, gue nggak bisa masuk pesawat sebelum dibikin label dan tanda bukti buat tripod gue. Petugas yang bikinin masih sibuk ngurusin berkas/data penerbangan –yang entah apa itu, di balik meja. Saat itu ya gue cuma bisa menunggu sambil pasrah kalau-kalau ketinggalan pesawat.

And in the very last minutes, akhirnya tripod gue dipasangi label, tapi tetep disita dan nanti diambil pas gue udah sampai Lombok! Gue dikasih selembar bukti pengambilan barang untuk klaim tripod gue nanti. Yaudahlah, pokoknya yang gue tahu gue harus segera nyusul naik ke pesawat.

Dan di Lombok gue hampir kecele ketika nunggu si tripod ini kok lama nggak lewat-lewat di ban berjalan pengambilan bagasi. Padahal keril kami sudah lengkap semua nangkring di troli. Akhirnya gue melipir nyari petugas tanya soal pengambilan tripod gue. Baru lah gue diarahin ke ruang kecil nggak jauh dari ban berjalan pengambilan bagasi, yang gue asumsikan sebagai pos lost and found atau semacamnya.

Tripod gue memang kembali. Tapi rentetan prosedural yang nggak jelas ini seharusnya bisa diperbaiki. Oke, mungkin gue salah. Nggak seharusnya bawa tripod ke kabin. Kalau memang seharusnya peraturan dan kebijakannya demikian, ya tolong disosialisasikan. Gue pribadi nggak lihat petunjuk atau peringatan terhadap larangan membawa tripod di area bandara. Toh sampai terakhir gue terbang tiga minggu sebelumnya dan transit di Soetta juga, tripod kecil gue itu masuk kabin juga nggak ada masalah. Jika ini peraturan baru dan bandara Soetta menerapkan larangan ini, lalu kenapa di bandara Padang tripod gue bisa lolos screening? Standar ganda?

wah, berarti bandara Padang yang salah. ini akan jadi laporan buat Padang”, gue kaget juga sama kesimpulan masnya pas gue protes.

Anyway, masukan buat yang punya wewenang bikin kebijakan di bandara begini:

  1. Tolong diperjelas terkait aturan/kebijakan barang yang dilarang masuk kabin.
  2. Bikin daftarnya dan pasang dari sejak pemeriksaan/pemindaian barang di pintu masuk.
  3. Acknowledgment dari petugas bandara akan sangat membantu, jadi pastikan juga semua petugas tahu dan paham terkait aturan ini, biar bisa memberi peringatan kepada penumpang untuk membagasikan barang bawaan yang dilarang masuk kabin.
  4. Kalaupun ada penumpang yang terjaring pada gate pemeriksaan sebelum masuk ruang tunggu, khususnya seperti yang saya alami, apabila diharuskan mengisi formulir pernyataan, tolong dipersiapkan format/template-nya sehingga penumpang tinggal mengisi data yang diperlukan saja.
  5. Tolong dikaji ulang juga terkait pengambilan gambar penumpang dan barang yang tidak lolos screening layaknya seorang pelaku kejahatan.
  6. Sediakan meja/booth petugas tersendiri di sekitar gate pemeriksaan sebelum masuk ruang tunggu untuk menangani masalah seperti ini. Pastikan petugasnya memiliki pengetahuan dan kecakapan yang memadai untuk memproses perkara secara jelas dan cepat. Jadi penumpang tidak perlu khawatir ketinggalan pesawat.

Gue bersyukur bisa punya pengalaman ini, meskipun sempat dongkol tapi gue bisa berbagi cerita ini yang semoga menjadi pembelajaran bagi kita bersama. Semoga dunia penerbangan (khususnya pengelola bandara) Indonesia dapat terus berbenah menuju ke arah lebih baik. Aamiin…

================

Dua hari kemudian..

Chat WA:
X: Asli, tripod harus bagasi. lo kemarin bawa tripod nggak?

Dua hari setelah kejadian yang menimpa gue, teman kos mengirimkan pesan tersebut ketika dia berada di bandara Padang hendak terbang pulang ke Jakarta.

================

Disclaimer: kisah berdasarkan pengalaman pribadi yang terjadi pada tanggal 26 April 2017.

Bagi yang punya pengalaman serupa boleh banget lho sharing di kolom komentar.

Semoga bermanfaat :)

Comments

  1. Belum pernah kejadian tripod kena razia begini cuma mikir juga kalo lain kali harus naik pesawat.. biasanya kan kita lebih nyaman nenteng tripod apalagi kalo ukurannya udah kecil.. tapi daripada ribet next time masuk bagasi aja deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali. saya juga jadi belajar dari pengalaman ini :)

      Delete
  2. tripod aja seperti ini apalagi laptop ya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Laptop aman, diperbolehkan dibawa ke kabin kok. Tapi pengalaman di beberapa bandara (domestik) menerapkan kebijakan agar laptop dikeluarkan dari tas saat screening :)

      Delete
  3. setauku sih , harmful tools (termasuk tripod, selfie stick atau yang bisa buat nggepuk lainnya) emang ga boleh masuk kabin kecuali sudah berijin ada sertifikat nya.
    Di aturan international flight sering aku baca sih hehhee...
    Nice info anw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, la... tapi kadang penerapan aturannya belum konsisten jadi ada semacam standar ganda (khususya di penerbangan domestik sih). alhamdulillah juga dua bulan lalu di penerbangan internasional tripod ku itu aman-aman saja, mungkin belum beruntung saja nasibnya si tripod waktu kena razia ini hehe

      Delete
  4. Ane pernah tu gan.
    Kena razia tripod trs disuruh masukin bagasi gak boleh bawa ke kabin. Eh gataunya, patah gara2 tau sendiri deh barang kalo di bagasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh, terus gimana gan? ada kompensasi kah dari maskapainya? atau diikhlasin aja?

      Delete
  5. Saya pernah juga kejadian soal tripod yg gak dibolehin masuk kabin di Bandara A Yani Semarang dan Bandara Sepinggan Balikpapan. Sejak itu, tripod selalu masuk bagasi. Ribet yak, masa cuma "mbagasiin" tripod (kecil pula) :-(

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

JABODETABEK on vacation 2

Selasa, 27 Desember 2011
"Serpong adalah sebuah kecamatan di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Indonesia. Sebelum Kota Tangerang Selatan menjadi kota otonom, Serpong merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Tangerang. Di kecamatan ini terletak kota terencana ternama yang bernama Bumi Serpong Damai atau seringkali disingkat dengan "BSD" (kini disebut sebagai BSD City, yang merupakan salah satu perintis perumahan di Serpong). Selain BSD saat ini perkembangan perumahan di kawasan ini sangat pesat seiring dioperasikannya jalan Tol Antasari - BSD. Diantaranya adalah Summarecon Serpong dan Alam Sutera." - Wikipedia
Sudah sering jalan-jalan ke Serpong, BSD khususnya, untuk sekadar nonton film Thailand di Blitzmegaplex. Namun, saat kesempatan lain datang seperti sekarang ini, akan lain juga ceritanya. Sebagaimana di cerita saya tentang backpacking Malang, saya pernah bercerita bukan kalau salah satu partnerbackpacking saya kala itu, Fahmi, berasal dari Serpon…

Mengintip Pariwisata Tulungagung: Pantai Indah Popoh

Letak geografis Tulungagung yang berbatasan langsung dengan samudera Hindia di sisi selatan menjadikan kota Marmer ini memiliki bentang panorama pesisir yang mengagumkan. Salah satunya teluk Popoh. Berjarak kurang lebih 30 km dari pusat kota ke arah selatan, sepanjang perjalanan kita dapat menikmati pemandangan persawahan, pegunungan kapur, dan kemudian jalanan berkelok menyusuri hutan perbukitan sebelum sampai di lokasi pantai Popoh.